Sunday, October 28, 2012

Masih Berkutat

pukul 22:42
aku masih berkutat dengan waktu.
aku masih berkutat dengan 'kerja' ini.
berkutat dengan hal yang paling menyibukkanku belakangan ini, laporan akhir praktikum.
masih berkutat dengan laptop malang yang menunggu istirahat karena seharian menyala.
masih berkutat dengan soal-soal laporan lainnya yang siap menunggu diketik.
masih berkutat dengan mesin tik dan kertas-kertas putih A4 bergaris tepi dengan margin 4-4-3-3.
masih berkutat dengan segala perkara mengenai revisi laporan akhir minggu lalu.
masih berkutat dengan semua pikir jengkel akan anggota satu kelompok yang kurang becus (maaf) melakukan tugas simpelnya.
masih berkutat dengan semua hal itu.
sampai detik ini juga.
bahkan aku sempat-sempatnya menulis di blog ini dengan mengesampingkan semua perkara "masih berkutat" itu.
aku meluangkan waktu, sebentar saja.
sebenarnya hanya karena aku ingin menulis sesuatu, mengatakan sesuatu dengan pikiran yang satu ini:

"karena sesibuk apapun aku,
masih berkutat dengan semua pikiran tentang kamu"
"entah kenapa, seketat apapun waktu mengejarku, bayangan tentang kamu 
selalu mudah menelusup.
selalu semua hal berkutat dengan kamu" 


***

maka aku putuskan menulis ini, semoga kamu bisa baca saat ini juga he-he :p

"selamat malam, ya Sayang. Sleep tight, Love you ♥"


                                                                                                         Unfaling Regards,

Thursday, September 13, 2012

Biarkan..Diam Sebentar

ssstt..
aku hanya ingin diam sebentar.
jangan ganggu.

biarkan pintu itu ditutup.
biarkan hanya jendela saja yang dibuka.
biarkan semuanya sepi.
biarkan semua gaduh itu menari di luar sana.
biarkan dunia berjalan sendiri di balik sana.
biarkan saya.
biarkan tetap disini.
biarkan termakan waktu.
biarkan detik bergelimpangan jatuh bersama pikir.
biarkan jutaan memori keluar berarak-arak.
biarkan saya mampu mengaduk semua rasa selama ini.
tapi saat ini.
biarkan saya disini.
sendiri.
mengurung.
merenung.

biarkan..
hanya untuk sementara waktu.
                                                                              Unfailing Regards,

Saturday, September 1, 2012

Adalah Tugasku ♥

Ketika suatu saat kamu merasa rindu,
adalah tugasku untuk melegakan kamu dengan peluk dan cium hangat.

Ketika suatu saat kamu merasa takut,
adalah tugasku menjaga dan melindungi kamu dari segala gangguan cemas.

Ketika suatu saat kamu merasa khawatir,
adalah tugasku untuk meyakinkan kamu bahwa semua hal dapat ditangani asal kita bersama.

Ketika suatu saat kamu merasa lelah,
adalah tugasku untuk tetap berdiri menopang beban hatimu.

Ketika suatu saat kamu kembali marah,
adalah tugasku untuk meredam emosi itu dan biarkan kamu bersandar.

Ketika suatu saat kamu merasa jenuh,
adalah tugasku untuk membangkitkan kembali jutaan kasih dan rindu.

Ketika suatu saat nanti kamu harus pergi,
adalah tugasku untuk memastikan kamu kembali.


                                                           Unfailing Regards,

Remang Lampu

remang lampu
memanja untuk tidur
bahkan kala senja hendak datang kembali
ruang ini tetap meremang malam
seolah menjaga tuan agar tetap dalam peraduan
cahaya kuningnya hanya mengernyap
buyaran titik-titik sinar merekah semalaman
bersiaga di sudut tempat itu
seraya menjaga tuan tetap terhanyut dalam mimpi
hingga sewaku pagi naik menjelang
tuan boleh menyapa hari
dengan senyum binar di sekujur tubuhnya
berkat tidur makmur yang membalur
di ruang itu tuan menyambut sejuta mimpi
menunggu untuk diwujudkan
ketika saatnya ia terbangun nanti.. 

                                                                  Unfailing Regards,

Monday, August 6, 2012

Tentang Impian dan Seorang Teman Pembawa Inspirasi


"Apa kamu pernah merasa bahwa kamu semakin jauh dari impianmu, sementara orang lain terlihat begitu dekat dengan mimpinya? Tidakkah kamu merasa iri?"

***

Hari ini saya bertanya-tanya, "Dia sedang apa ya?"

Dia siapa, yang pasti bukan pacarku. Bukan keluargaku. Bukan saudaraku. Tapi juga bukan "bukan siapa-siapa"-ku. Dia temanku. Dan kami cukup dekat. Dia pernah menjadi orang terdekatku. Temanku dari SMP. Jelas, dia "siapa-siapa"-ku kan?

Bukan hanya itu, bukan sekedar teman biasa. Bisa dibilang kami bersahabat. Lebih dari itu, dia orang yang pernah menjadi inspirasiku. Bukan karena dirinya memotivasiku, dia bahkan tidak melakukan apa-apa. 
Dia juga tidak pernah mencoba jadi orang lain. Selama ini dia cukup menjadi dirinya sendiri untuk bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. 

Dia orang yang memiliki kekuatan dan aura. Dan orang yang memiliki kekuatan dan aura selalu berhasil menjadi orang hebat yang dapat membuat orang lain merasa hebat karenanya. 
Tanpa disadarinya, temanku yang satu itu cukup memberiku vibrasi untuk termotivasi. 

Dia menyadarkanku bahwa aku punya impian. Bahwa aku punya hobi, kesukaan yang ingin kugeluti.
Kesenanganku dalam membangun dunia di alam pikir, aku sadar menyukai hal itu.
Bukankah menyenangkan dapat menyelami sudut pandang seseorang dengan membaca suatu cerita dari seorang penulis, apalagi jika kau mampu menuliskannya kembali menurut versimu.
  
Lalu aku bergumam lagi. Dalam benakku, "Mungkin dia sedang mengejar impiannya."
Aku merengut. Aku bagaimana? 

Mungkin baginya dunia itu impiannya, namun bagiku dunia itu hanyalah hobi. Aku bahkan belum mengetahui apa impianku secara nyata. Di sini pun aku sedang mengejar bidang yang lain. Dunia perkuliahan malah menarikku ke jenjang industri, statistika, manajemen, organisasi perusahaan, kepabrikan, analisa kelayakan mesin, dan entah masih banyak lagi. 

Tadinya aku berpikir aku melenceng jauh. Tapi ini pilihanku. Aku telah memutuskan. Dan aku merasa tidak ada yang salah dengan hal itu. Jadi aku hanya akan menjalani apa yang ada di depan mata. Aku percaya tidak ada hal yang sia-sia terjadi dalam hidup ini, hidupku, dan hidupmu. Aku percaya semua hal terjadi karena suatu alasan. Termasuk "peristiwa" bahwa aku sekarang berdiri di ranah industri, bukan berarti aku akan jauh dari hal-hal yang kusukai: sastra. 

Dan aku berjanji pada diriku sendiri. Apapun hal yang kujalani saat ini, aku akan fokus.
Fokus menjadi apapun. Hingga akhirnya aku berhasil seperti apa yang diinginkan dan diperlukan, untuk Sang Tujuan, untuk orang-orang yang kusayangi, untuk orang banyak, dan untuk diriku sendiri.

Sambil tersenyum, aku mendoakannya, "Semoga kelak kau menjadi orang yang berhasil, Aninta Ekanila Mamoedi."


                                                                  Unfailing Regards,