Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Thursday, January 22, 2015

"Akar Waktu"

"waktu selalu mengakar sampai pada detik-detik yang takkan lagi bisa kau hitung dan kau rasa, tetapi bagaimana jika yang mampu kau miliki untuk bersama adalah akar waktu itu?"



***



terkadang kita hanya merasa sangat-sangat hampa

seperti sangat nyeri di batin
namun juga terasa kekosongan luas merongga hati

aku lelah merasa
tapi juga takut membayangkan tidak merasakan apa-apa lagi




terkadang kita hanya mampu bertanya-tanya
tapi tidak pernah ingin benar-benar bertindak

karena kita merasa terlalu takut akan kehilangan


apakah memang sudah saatnya?
ataukan memang tidak akan pernah ada saat itu?




Tuhan, beri kami petunjuk-Mu kemana kami harus melangkah
kemana kami harus berlabuh untuk tetap pada satu hati yang ada saat ini.


apakah kami hanya perlu bertahan dalam semua perkara untuk imbalan rasa bahagia dan saling memiliki
ataukah kami harus menempuh jalan berbeda untuk tumbuh dalam akar-akar waktu yang semakin menua?






                                                                                         Unfailing Regards,
 

Wednesday, September 10, 2014

“Ayah, Selamat Ulang Tahun.”



Lilin menyala. 

Angka tujuh puluh empat berwarna merah itu bertengger disana.

Di atas kue ulang tahun bertabur keju dan coklat almond yang ditemani tulisan krim putih:

“Selamat Hari Ulang Tahun, Ayah.”



---

Aku lihat raut muka Ayah, ia tampak gembira di tengah kelelahannya sehabis bekerja. Pulang kerja, perjalanan jauh ditempuhnya, dan apa yang beliau dapat? Kejutan kecil dari anak-anak dan tentunya istri tercinta, alias Mama-ku.

Raut muka yang itu. Aku pandang lekat. Perasaan bahagia pasti ada jika melihat raut muka yang itu bisa tersenyum, bisa tertawa, atau bahkan sekedar mengucap kelakar “Wah, pulang-pulang dapat roti, kue ulang tahun!” ujarnya sambil terkekeh.

Kekeh yang keluar dari seseorang yang sangat kuhormati, pria paling terhormat yang pernah aku temui dalam hidupku, dan selamanya tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan ‘tempat istimewa’nya di hatiku.  Beliau adalah Ayahku, pelindung kami, aku dan saudara-saudaraku, juga pendamping dan sahabat spesial Mamaku, sampai kapanpun.

Kekeh yang terdengar tua, keluar dari seseorang yang memang semakin bertambah tua. Beliau duduk dengan mata berbinar, menatap lekat kue berbentuk persegi panjang di depannya, sambil menunggu nyanyian “happy birthday” untuknya selesai kami latunkan. Cahaya matahari mempertegas kerutan-kerutan yang sudah ada di wajahnya sejak lama, bukti usia dan kelelahan yang sudah bertahun-tahun dimilikinya. Rambutnya mulai menipis di beberapa tempat, namun masih berwarna hitam, entah karena warna aslinya begitu atau memang cat yang sengaja dipoles untuk menutupi rambut-rambut putih bandel yang dijuluki ‘uban’.

Aku masih muda. Umur aku dan Ayah memang bisa dibilang terpaut sangat jauh untuk ‘ukuran umur ayah dan anak’. Tapi aku tidak terlalu polos dan muda untuk bisa melihat dengan jelas wajah penuh keringat itu, dalam rupanya, dalam dirinya, dalam hatinya, dalam setiap aura yang terpancar darinya, bahwa ia kelelahan. Bukan sekedar lelah biasa, tapi lelah yang mampu membuat siapapun yang melihatnya khawatir dan cemas.

Bahkan saat matanya terpejam, melakukan ‘make a wish’ seperti kebiasaan kami jika ada yang berulangtahun, aku bisa melihat waktu seakan berhenti berputar. Detik-detik seolah melambat ketika matanya terbuka kemudian mulutnya meniupkan angin untuk mematikan lilin berwarna merah itu. Bukan hanya aku, tapi juga saudara-saudaraku, terutama Mama, pasti merasakan apa yang aku pikirkan saat ini.

Perasaan takut dan simpatik yang menjalar-jalar setiap kali mendengar suara nafasnya yang hampir satu-satu, perasaan bertanya-tanya dan hati yang selalu berdoa untuk kesehatan Ayah setiap saat, setiap waktu, setiap tarikan nafas hidupnya.

Apapun yang dilakukannya, mungkin tahun-tahun kelam dimana keluarga kami seperti rumah sunyi, dimana sikap acuh berkobar dalam kepahitan yang terus dipendam, aku memutuskan untuk memaafkannya. Aku memutuskan untuk berhenti bersikap menghindar dan seolah bermusuhan dengannya. Mencoba memahaminya dengan memutuskan bahwa beliau punya alasan mengapa itu dilakukannya, menjadi Ayah sekaligus Suami yang menjaga jarak dengan anak-anak dan istrinya. Yang selama bertahun-tahun mengecewakan keluarga kecilnya sendiri.

Jadi, aku mencoba bersikap dewasa dan membuang jauh segala pikiran sempit dan prasangka. Aku pikir: Mengapa tidak membuka diri, mengapa tidak saling memaafkan dan belajar saling mengerti ketika kau masih sanggup melakukannya? Sebelum semuanya terlambat.

Tapi Ayah, cukup hari ini saja, lupakan itu semua ya. Yang ingin aku lihat dan kenang dari hari membahagiakan ini hanya satu, yaitu wajah bahagia dari pria yang paling kuhormati di dunia ini. Tersenyumlah, Ayah. 

Biarkan kue berwarna putih almond dan keju kuning pucat itu menarik urat-urat senyummu. 
Biarkan dua kado yang terbungkus rapi nanti menyimpan kejutan kecil untukmu. 
Biarkan bubur hangat buatan Mama yang sebentar lagi akan kau santap memberikan energi baru untuk tubuh yang letih itu. 
Biarkan rasa cinta dan sayang dari istri dan anak-anakmu mendoakan kesehatanmu.


---


“Tetaplah sehat, Ayah. Tuhan selalu menyertaimu.
Kepahitan apapun yang pernah terjadi, kami akan tetap menyayangi dan membanggakanmu, karena kami tetap keluargamu. Seutuhnya.”


25 Agustus 2014.
Latepost.
Rumah.



                                                            Unfailing Regards,

Saturday, February 23, 2013

"Selamat bergabung.." :)

1:44 am.
dini hari aku masih terjaga.
oh bukan, lebih tepatnya aku kembali terjaga setelah tertidur selama kira2 dua jam lalu.
aku terbangun karena satu hal.

satu pikiran itu seolah menyentakku sampai aku terhentak dari mimpi dini.
mari, aku cerita sedikit tentang 'pikiran' apa itu, berhubungan dengan apa yang kurasakan hari ini.


1:53 am.
beberapa menit yang lalu, sesuatu menyadarkan saya.
ada hal yang berubah, yang menjadi awal yang baru buat saya.

"Selamat bergabung kepada teman-teman asisten baru yang lolos pada seleksi tanggal 22 dan 23 Februari 2013. Berikut ini daftar nama asisten yang akan bergabung dalam Laboratorium Teknik Industri Dasar:"

dan dalam daftar yang dimaksud itu, ada nama saya..
seketika perasaan berkecamuk.
senang? pastinya. itu jelas membanggakan.
bagi saya itu menjadi 'prestasi' besar dalam hidup saya sampai saat ini.
tapi takut? cemas?
ya..sayangnya, itu juga menjadi hal yang saya rasakan sampai detik ini.


1:57 am.
Jadi begini.
sejak sebulan yang lalu, belakangan ini saya merasa begini:
"Asisten Laboratorium Industri" adalah salah satu jabatan yang paling saya inginkan saat ini sekaligus 'profesi' sampingan sebagai mahasiswa yang saya 'ragukan' bahwa saya bisa mewujudkannya.

dan ketika Tuhan menunjukkan dan memberi kesempatan bagi saya untuk mewujudkannya, saya merasa..bodoh sekali ketika saya harus merasa galau lagi.
saya tau saat ini saya benar-benar harus yakin saya bisa melakukannya.


2:04 am
saya tau ini benar-benar akan menjadi awal yang baik untuk mengawali hari-hari selanjutnya, terutama untuk semester ke depan sebagai mahasiswa, yaitu semester 4.
jujur, saya masih ragu.
tapi saya terus meyakinkan diri bahwa saya mampu.
dan saya terus berdoa semoga saya bisa memegang kata-kata saya, yang saya ucapkan dan janjikan ketika berada di seleksi wawancara beberapa jam yang lalu.


2:08 am.
konsekuensi. tanggung jawab.
itu yang terus-menerus berkutat di otak saya.
mungkin akan ada banyak konsekuensi dan 'rugi' waktu, tenaga, perasaan, pikiran ketika saya menjalani masa jabatan sebagai Aslab.
namun saya tau saya hanya perlu fokus.
dan total dalam hal ini.
seperti apa yang saya katakan pada saat wawancara.
maka saya tidak perlu ragu, takut, dan seharusnya tetap maju dengan bangga. 



2:12 am
terus mengulang dalam diri saya:
"Semoga ini menjadi pilihan yang benar.."

jadi saya mengatakan pada diri saya sendiri:
"Smoga saya benar-benar bersyukur, bertanggung jawab, dan mencintai atas apa yang menjadi pilihan saya."





                                            Unfailing Regards, 

 

Monday, August 6, 2012

Tentang Impian dan Seorang Teman Pembawa Inspirasi


"Apa kamu pernah merasa bahwa kamu semakin jauh dari impianmu, sementara orang lain terlihat begitu dekat dengan mimpinya? Tidakkah kamu merasa iri?"

***

Hari ini saya bertanya-tanya, "Dia sedang apa ya?"

Dia siapa, yang pasti bukan pacarku. Bukan keluargaku. Bukan saudaraku. Tapi juga bukan "bukan siapa-siapa"-ku. Dia temanku. Dan kami cukup dekat. Dia pernah menjadi orang terdekatku. Temanku dari SMP. Jelas, dia "siapa-siapa"-ku kan?

Bukan hanya itu, bukan sekedar teman biasa. Bisa dibilang kami bersahabat. Lebih dari itu, dia orang yang pernah menjadi inspirasiku. Bukan karena dirinya memotivasiku, dia bahkan tidak melakukan apa-apa. 
Dia juga tidak pernah mencoba jadi orang lain. Selama ini dia cukup menjadi dirinya sendiri untuk bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. 

Dia orang yang memiliki kekuatan dan aura. Dan orang yang memiliki kekuatan dan aura selalu berhasil menjadi orang hebat yang dapat membuat orang lain merasa hebat karenanya. 
Tanpa disadarinya, temanku yang satu itu cukup memberiku vibrasi untuk termotivasi. 

Dia menyadarkanku bahwa aku punya impian. Bahwa aku punya hobi, kesukaan yang ingin kugeluti.
Kesenanganku dalam membangun dunia di alam pikir, aku sadar menyukai hal itu.
Bukankah menyenangkan dapat menyelami sudut pandang seseorang dengan membaca suatu cerita dari seorang penulis, apalagi jika kau mampu menuliskannya kembali menurut versimu.
  
Lalu aku bergumam lagi. Dalam benakku, "Mungkin dia sedang mengejar impiannya."
Aku merengut. Aku bagaimana? 

Mungkin baginya dunia itu impiannya, namun bagiku dunia itu hanyalah hobi. Aku bahkan belum mengetahui apa impianku secara nyata. Di sini pun aku sedang mengejar bidang yang lain. Dunia perkuliahan malah menarikku ke jenjang industri, statistika, manajemen, organisasi perusahaan, kepabrikan, analisa kelayakan mesin, dan entah masih banyak lagi. 

Tadinya aku berpikir aku melenceng jauh. Tapi ini pilihanku. Aku telah memutuskan. Dan aku merasa tidak ada yang salah dengan hal itu. Jadi aku hanya akan menjalani apa yang ada di depan mata. Aku percaya tidak ada hal yang sia-sia terjadi dalam hidup ini, hidupku, dan hidupmu. Aku percaya semua hal terjadi karena suatu alasan. Termasuk "peristiwa" bahwa aku sekarang berdiri di ranah industri, bukan berarti aku akan jauh dari hal-hal yang kusukai: sastra. 

Dan aku berjanji pada diriku sendiri. Apapun hal yang kujalani saat ini, aku akan fokus.
Fokus menjadi apapun. Hingga akhirnya aku berhasil seperti apa yang diinginkan dan diperlukan, untuk Sang Tujuan, untuk orang-orang yang kusayangi, untuk orang banyak, dan untuk diriku sendiri.

Sambil tersenyum, aku mendoakannya, "Semoga kelak kau menjadi orang yang berhasil, Aninta Ekanila Mamoedi."


                                                                  Unfailing Regards,
 

Wednesday, March 14, 2012

"ora e per sempre"

biar malam ini tenang menyapa
dalam sunyi
aku berbaring
di atas peraduanku tempat tidurku
tempat aku mengoyak mimpi
dan memikir sejuta realita
mengulas hidup
lalu terbayang seolah
aku genggam buku kehidupan
mata penuh tatap
hati penuh harap
merentangkan lembar demi lembar
cerita hari-hariku
kemudian aku terhenti
pada satu cerita, satu bab kehidupan
ketika itu judulnya "ora e per sempre"
aku berharap
suatu hari nanti ada seseorang 
yang bisa kuajak berbagi
cerita masa depan itu
dan semoga orangnya itu kamu :p


ora e per sempre, now and forever, sekarang dan selamanya..

                                                   
                                       Unfailing Regards,

Wednesday, June 22, 2011

Dear, Siapapun Yang Menemukan Surat Ini


"Ini hanya sebuah cerita.

Hanya curahan hati yang sudah kurangkum.

Nyata atau tidaknya cerita ini tergantung kalian yang membacanya,

Semuanya tergantung pikiranmu.

Menurutmu ini nyata?"


Dear, Siapapun yang Menemukan Surat Ini

Adakah pernah kau melihat sesuatu yang berbeda pada sahabatmu sendiri?
Adakah kau akan mendengarkan ceritaku?

Aku melihatnya hari ini.
Namun dia terlebih dahulu melihatku.
Dia melambaikan tangannya.
Aku tersenyum sekenanya.
Dia menghampiriku.
Aku bergeming, menunggunya mendekat.

Dia duduk di sebelahku, mengambil tempat favoritku.
Aku menepuknya, bertanya ceria “Apakabar lo?”
Dia tertawa hambar, katanya “Masih sama. Ha-ha.”
Seketika itu aku mengerti apa maksudnya.
Dia masih menyimpan rasa pada cerita lama, cinta pertamanya.

Sudah beberapa minggu berlalu.
Rupanya dia belum juga bisa melupakan gadis itu.
Aku mengerti kenapa.
Dan aku paham bagaimana rasanya.

Aku skeptis.
Selalu kutanyakan bagaimana kabarnya.
Bagaimana kemajuannya.
Ketika dia selalu menjawab ‘masih sama’,
aku tersenyum miris.
Dalam hati, aku ingin sekali membantunya.
Menopangnya tetap teguh berdiri.
Si cowok canggung ini benar-benar menyita perhatianku.
Aku kasihan padanya.
Dan aku benar-benar ingin ‘menjaganya’.

Ketika melihatnya hari ini dengan masih membawa cerita yang sama,
hatiku melesak.
Dia tertunduk, malu dan sakit.
Aku mengerti bagaimana rasanya.
Ingin sekali aku memperbaiki luka hatinya.
Tapi aku siapa nya?
Dia takkan pernah membiarkanku memasuki ruang hatinya.
Tidak, jika aku mengharapakan sesuatu yang lebih.
Tidak akan pernah.

Aku ini hanya seorang sahabat.
Tidak lebih dari teman curhatnya.
Bahkan, aku bukan siapa-siapanya.

Dan sebagai seorang teman baik, apa yang bisa kulakukan?
Aku hanya bisa tersenyum palsu
dan pura-pura menyemangatinya.
Padahal jauh di lubuk hati aku ikut merasakan kepedihan.
Aku menyayangkan perasaannya yang setulus itu gagal menggapai cinta sejatinya.
Ini jujur, aku sungguh merasa begitu.

Tapi yang sekarang kurasakan berbeda.
Tiba-tiba otakku buntu.
Lidahku kelu.
Aku mendadak kaku.
Aku merasakan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang terus-menerus berusaha kusanggah.

Ketika menyadari ada perasaan yang lain itu,
aku memilih mundur.
Aku menghalau perasaan itu.
Lalu menyembunyikannya jauh di dasar hati.
Aku hanya tidak ingin itu muncul ke permukaan.
Aku ingin merasa cukup hanya dengan ini.
Dengan begitu, dia tidak perlu tahu yang sebenarnya.

Cukup begini saja.
Supaya tidak ada yang terluka dan harus menjauh lagi karena sebuah perasaan.


Menurutmu, apakah yang kulakukan itu sudah benar? 
Aku benar, kan?

 
Terimakasih ya, Siapapun Kamu yang Sedang Membaca Ini.

Love & Regards,