Showing posts with label memorable. Show all posts
Showing posts with label memorable. Show all posts

Thursday, January 22, 2015

"Akar Waktu"

"waktu selalu mengakar sampai pada detik-detik yang takkan lagi bisa kau hitung dan kau rasa, tetapi bagaimana jika yang mampu kau miliki untuk bersama adalah akar waktu itu?"



***



terkadang kita hanya merasa sangat-sangat hampa

seperti sangat nyeri di batin
namun juga terasa kekosongan luas merongga hati

aku lelah merasa
tapi juga takut membayangkan tidak merasakan apa-apa lagi




terkadang kita hanya mampu bertanya-tanya
tapi tidak pernah ingin benar-benar bertindak

karena kita merasa terlalu takut akan kehilangan


apakah memang sudah saatnya?
ataukan memang tidak akan pernah ada saat itu?




Tuhan, beri kami petunjuk-Mu kemana kami harus melangkah
kemana kami harus berlabuh untuk tetap pada satu hati yang ada saat ini.


apakah kami hanya perlu bertahan dalam semua perkara untuk imbalan rasa bahagia dan saling memiliki
ataukah kami harus menempuh jalan berbeda untuk tumbuh dalam akar-akar waktu yang semakin menua?






                                                                                         Unfailing Regards,
 

Sunday, September 28, 2014

Seharian dan Layang-layang

seharian yang aku damba.
terkadang tidak menginginkan banyaknya destinasi atau kegiatan khusus.

terkadang aku hanya ingin
duduk berjam-jam di suatu tempat.
mengobrol tentang banyak hal.
saling terbuka berbicara dari hati ke hati.

namun terkadang waktu belum begitu cukup.
dan malam harus kembali ke peraduan.
dan besok pagi rutinitas sudah menunggu.
kita harus pulang, meskipun aku merasa sangat enggan..


Sumber gambar:  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfQFDIkKF8SJ_3TY5WiH3ph38xGJzY0g_tukfjjOfCCUtcBNx1u5Ctj8FfLGmP2P-eJfH_NLvuEFpLXdycQ5_7xcAfkitX771R5Gk-olT2IhSYex-c1p4R5tW6ZKPoUNsuG4duE26_sG4/s320/layang-layang.jpg



apa perlu dipendam saja sementara waktu.
perasaan rindu seperti ini.
aku akan biarkan layangan ini terbang mengangkasa.
tapi akan tetap kubendeng talinya sambil tersenyum.
suatu saat layang-layang kokoh ini akan sangat lelah menatap angkasa.
sehingga dia kembali padaku mencari rumah, melepas segala perkara.
pada saat itu datang, aku akan sudah sangat sabar menunggu.
dan pada akhirnya dia akan meyadari dan mengerti keberadaanku selama ini.
jadi layang-layang akan selalu pulang.
karena aku akan selalu ada.
untuknya.



Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right
And I know just why you could not
Come along with me
This was not your dream
But you always believed in me


-Home-Michael Buble-





                                                                                                        Unfailing Regards,
 

Wednesday, September 10, 2014

“Ayah, Selamat Ulang Tahun.”



Lilin menyala. 

Angka tujuh puluh empat berwarna merah itu bertengger disana.

Di atas kue ulang tahun bertabur keju dan coklat almond yang ditemani tulisan krim putih:

“Selamat Hari Ulang Tahun, Ayah.”



---

Aku lihat raut muka Ayah, ia tampak gembira di tengah kelelahannya sehabis bekerja. Pulang kerja, perjalanan jauh ditempuhnya, dan apa yang beliau dapat? Kejutan kecil dari anak-anak dan tentunya istri tercinta, alias Mama-ku.

Raut muka yang itu. Aku pandang lekat. Perasaan bahagia pasti ada jika melihat raut muka yang itu bisa tersenyum, bisa tertawa, atau bahkan sekedar mengucap kelakar “Wah, pulang-pulang dapat roti, kue ulang tahun!” ujarnya sambil terkekeh.

Kekeh yang keluar dari seseorang yang sangat kuhormati, pria paling terhormat yang pernah aku temui dalam hidupku, dan selamanya tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan ‘tempat istimewa’nya di hatiku.  Beliau adalah Ayahku, pelindung kami, aku dan saudara-saudaraku, juga pendamping dan sahabat spesial Mamaku, sampai kapanpun.

Kekeh yang terdengar tua, keluar dari seseorang yang memang semakin bertambah tua. Beliau duduk dengan mata berbinar, menatap lekat kue berbentuk persegi panjang di depannya, sambil menunggu nyanyian “happy birthday” untuknya selesai kami latunkan. Cahaya matahari mempertegas kerutan-kerutan yang sudah ada di wajahnya sejak lama, bukti usia dan kelelahan yang sudah bertahun-tahun dimilikinya. Rambutnya mulai menipis di beberapa tempat, namun masih berwarna hitam, entah karena warna aslinya begitu atau memang cat yang sengaja dipoles untuk menutupi rambut-rambut putih bandel yang dijuluki ‘uban’.

Aku masih muda. Umur aku dan Ayah memang bisa dibilang terpaut sangat jauh untuk ‘ukuran umur ayah dan anak’. Tapi aku tidak terlalu polos dan muda untuk bisa melihat dengan jelas wajah penuh keringat itu, dalam rupanya, dalam dirinya, dalam hatinya, dalam setiap aura yang terpancar darinya, bahwa ia kelelahan. Bukan sekedar lelah biasa, tapi lelah yang mampu membuat siapapun yang melihatnya khawatir dan cemas.

Bahkan saat matanya terpejam, melakukan ‘make a wish’ seperti kebiasaan kami jika ada yang berulangtahun, aku bisa melihat waktu seakan berhenti berputar. Detik-detik seolah melambat ketika matanya terbuka kemudian mulutnya meniupkan angin untuk mematikan lilin berwarna merah itu. Bukan hanya aku, tapi juga saudara-saudaraku, terutama Mama, pasti merasakan apa yang aku pikirkan saat ini.

Perasaan takut dan simpatik yang menjalar-jalar setiap kali mendengar suara nafasnya yang hampir satu-satu, perasaan bertanya-tanya dan hati yang selalu berdoa untuk kesehatan Ayah setiap saat, setiap waktu, setiap tarikan nafas hidupnya.

Apapun yang dilakukannya, mungkin tahun-tahun kelam dimana keluarga kami seperti rumah sunyi, dimana sikap acuh berkobar dalam kepahitan yang terus dipendam, aku memutuskan untuk memaafkannya. Aku memutuskan untuk berhenti bersikap menghindar dan seolah bermusuhan dengannya. Mencoba memahaminya dengan memutuskan bahwa beliau punya alasan mengapa itu dilakukannya, menjadi Ayah sekaligus Suami yang menjaga jarak dengan anak-anak dan istrinya. Yang selama bertahun-tahun mengecewakan keluarga kecilnya sendiri.

Jadi, aku mencoba bersikap dewasa dan membuang jauh segala pikiran sempit dan prasangka. Aku pikir: Mengapa tidak membuka diri, mengapa tidak saling memaafkan dan belajar saling mengerti ketika kau masih sanggup melakukannya? Sebelum semuanya terlambat.

Tapi Ayah, cukup hari ini saja, lupakan itu semua ya. Yang ingin aku lihat dan kenang dari hari membahagiakan ini hanya satu, yaitu wajah bahagia dari pria yang paling kuhormati di dunia ini. Tersenyumlah, Ayah. 

Biarkan kue berwarna putih almond dan keju kuning pucat itu menarik urat-urat senyummu. 
Biarkan dua kado yang terbungkus rapi nanti menyimpan kejutan kecil untukmu. 
Biarkan bubur hangat buatan Mama yang sebentar lagi akan kau santap memberikan energi baru untuk tubuh yang letih itu. 
Biarkan rasa cinta dan sayang dari istri dan anak-anakmu mendoakan kesehatanmu.


---


“Tetaplah sehat, Ayah. Tuhan selalu menyertaimu.
Kepahitan apapun yang pernah terjadi, kami akan tetap menyayangi dan membanggakanmu, karena kami tetap keluargamu. Seutuhnya.”


25 Agustus 2014.
Latepost.
Rumah.



                                                            Unfailing Regards,

Sunday, June 30, 2013

Just Give Me A Reason

"just give me a reason
just a little bit's enough
just a second
we're not broken just bent
and we can learn to love again.

it's in the stars
it's been written in the scars on our hearts
we're not broken just bent
and we can learn to love again."


-Just Give Me A Reason
Pink ft. Nate Ruess

Thursday, January 17, 2013

Persis Seperti Waktu Itu

menatap diri, kudapati wajahku  tersenyum
          dengan kamu duduk di sampingku,
         dan jernihnya air danau serta rindang pohon naungi tempat kita duduk, 
persis seperti waktu itu.


sesekali aku menatap, mata itu, senyum itu, wajah yang itu,
                      dengan kamu memandang langsung pada pupil mataku
                               kamu tersenyum, dan wajah itu selalu menyihirku dengan sempurna.
         terpesona yang langsung menjalari sekujur tubuh.
persis seperti waktu itu.


debaran jantung, rasa bahagia, semu merah di pipi,
                              mata yang berseri-seri, mulut yang terus berceloteh,
telinga yang menyimak sepenuh hati, tersihir,
                                         lenganku merangkul pinggangmu,
                   tubuhmu bersandar nyaman padaku, 
                                                                                               persis seperti waktu itu.



dan semua suasana itu..
         saya rindu.

                                                                Unfailing Regards,



 

Wednesday, April 18, 2012

Ada Kalanya

apa yang harus dikatakan ketika suatu saat aku sangat membutuhkanmu?
apa yang harus dilakukan ketika suatu saat aku merindukanmu?
apa yang harus dikatakan ketika suatu saat kau marah padaku?
apa yang harus dilakukan ketika suatu saat aku mengecewakanmu?
apa yang bisa kuperbuat ketika semua sedang mengabu-abu...



ada kalanya kamu dan aku tidak sedang dalam pikiran yang sejalan.
ada kalanya waktu terlihat membosankan ketika kita berjalan bersama.
ada kalanya aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.
ada kalanya kamu tidak paham apa yang harus kamu lakukan.
ada kalanya rasa bersalah mengendapi kamu dan aku.
ada kalanya keraguan dan ketakutan menderak-derak batin.
ada kalanya air mata jatauh ketika kamu mengacuhkan aku.
ada kalanya air mata berurai ketika aku tahu kamu mungkin terluka.
ada kalanya air mata menetes ketika kita temukan perselisihan.
ada kalanya air mata mengaliri pipi ketika aku bayangkan semua pedih itu.
ada kalanya aku sungguh menjadi si cengeng yang luput akan rasa peka.



namun itu tak mengapa
karena setiap kali aku akan teringat bahwa ada masa
ketika semua itu berbalik dengan sendirinya.

sebab ada kalanya...



ada kalanya kita kembali meniti degupan rasa.
ada kalanya rasa rindu pulang merasuki hati-pikiran mu dan aku.
ada kalanya rindu mengalahkan semua sesal dan amarah.
ada kalanya kamu melunak setelah emosi itu menggelegak.
ada kalanya debaran jantung itu kembali membuncah berkali-kali.
ada kalanya tak mengapa ketika sunyi memecah jarak antara kita.
ada kalanya peluk dan cium menjanjikan damai dan kelegaan.
ada kalanya jemari itu mengusap lembut air mata yang menitik.
ada kalanya mata itu terus menatap penuh sayang.
ada kalanya harapan terus bernapas menghidupi asa dan cinta.
ada kalanya kita diingatkan bahwa semoga rasa tak pernah mati.



semua memori ada masanya.
semua masa ada waktunya.

sayang, kita tahu semua hal ada kalanya..

*** 



Ada kala di bawah langit senja ketika 
lelaki itu berkata pada kepada gadis dalam 
dekapannya, "Jadi bisakah kau tenangkan aku? Setidaknya 
dengan kata-kata 'selama kita tetap bersama, 
selama kita saling mendekap'?" Dan sesaat  gadis 
itu terdiam, memandang heran kekasihnya. Berpikir sejenak 
dalam hati, 'apa yang sedang kau pikirkan 
dan cemaskan?' Namun ia tetap tersenyum, lalu 
mengangguk pelan. Mata penuh sayang itu menatap 
lelaki dalam pelukannya, "Tenanglah, Sayang. Aku janji 
akan selalu berusaha meyakinkamu untuk tetap bersama 
lalui setiap kala yang akan datang itu."


Sayang...akankah kita mampu seperti mereka? 


                                                                       ♥ you sm, bi :')
   

Wednesday, January 18, 2012

When I'm Going To Hug You


I just realized something, bi.


"At that time, I just want to hug you as long as possible ..."



                                                  Unfailing Regards,
 

Tuesday, January 17, 2012

Patah

"gitarku patah..."
ketika itu, ia baru saja memberitahuku. 
sekejap nada sendu hadir dalam suasananya. 
aku ingat, itu benda kesayangannya..

*** 
Sayang, aku ingat.
  
pada hari yang sama
ada kata-kata lain yang terlontar
sebuah janji

hanya satu kalimat
di mana kau menyelipkan kata patah
yang seharusnya identik dengan kesan retak dan rusak

namun yang terjadi sebaliknya,
kata-kata itu seolah mengumpulkan kembali 
serpih-serpih hidup yang tersebar

merasuk ke dalam hingga 
menyambung segala patahan, retakan, dan bahkan kerusakan 
yang pernah membelenggu aku dalam ragu.



" You should know if I'll never let you 
"broken" as my guitar "

- Marthan's PM BBM 
on 13.12.11



                                                              Unfailing Regards,

Wednesday, December 21, 2011

Today ♥


.duasatusatuduasebelas.



Terimakasih, sayang...

Meskipun hanya surat kecil
yang tadi sempat 'berbicara' tentang semua rasa

Tapi begitu bermakna
dan seolah memeluk awal perjalanan kisah cinta


dua sejoli,
kamu dan aku...

" Mr. Fantastic ♥ Invisible girl, and conversely "  



P.S:
Aku sayang kamu :')



                                            So falling in love,

Wednesday, February 2, 2011

A Little Outpouring

Hari ini.
020211.
Tanggal sakral, bagiku.
yah, meskipun memang cuma salah satunya.
Tetapi, paling tidak aku ingin mengenangnya
walau sedikit, walau perih
tak mengapa asal hal itu bisa mengembalikannya.

Aku tidak minta banyak.
hanya satu ekspektasi kok.
Tidak perlu dia yang kembali.
Cukup dengan: sebagian dirinya saja yang kembali.
Sungguh.

Aku akan 'berusaha' merasa cukup jika yang kembali adalah
kenangan bersamanya.
atau cukup suaranya.
cukup wajahnya.
cukup kata-katanya.
dan cukup.
cukup itu saja, jadi dia tak perlu kembali.

Hari ini.
tepat setahun yang lalu, di mana 020210 bermuara.
hari di mana akhirnya aku berani
menyatakan satu perasaan.
yang mana memang itu maksudku padanya selama ini.

Demi dia.
demi orang itu, aku bisa setulus itu.
pertama kalinya seseorang benar bisa menyanjung egoku.
Dia, orang yang baik.
tapi mungkin, bukan cowok yang baik.
ha-ha-ha, benarkah begitu?

Aku ingat lagu favoritnya.
dinyanyikannya di atas motor kesayangannya.
tapi hari ini, yang dinyanyikan adalah lagu yang berbeda.
"Rasa Ini" -nice song from vierra :)
katanya padaku,
"Ini lagu lo kan? Pas tuh"

Ya, itu lagu buat kamu.
"Kusuka dirinya, mungkin aku sayang.
Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku?"


Lalu apa yang terjadi selanjutnya?
kamu memutuskan pergi.
menjadikan lagu itu semakin berarti.
kamu melihat hatiku lebih dulu, jauh sebelum aku berhasil mengucapkannya.
menjadikan lagu itu semakin menyiksa.
kamu, dan semuanya tentang kamu.
menjadikan aku begitu rapuh.
Saat itu.
aku sesak.

sadar.
bahwa kamu berhasil mencuri.
kemudian berhasil menjaganya.
dan menyanjungnya, memolesnya dengan rasa tak terhingga
lalu, entah apa namanya, mempermainkannya?

cowok macam apa kamu, tanyaku dalam hati.
kamu mengakui.
kamu mendekati.
kamu tersenyum menatapi.
tapi lalu,
apa?
mengakhiri segalanya.

dan tahukah kamu?
kini aku sudah menjadi baru.
membuang jauh kamu dan seluruh hatiku tentang kamu.
lega.
besar rasanya.
seperti menang.

tapi sayangnya, kamu terlalu berharga.
itulah kenapa
sampai detik ini aku masih mau mengenangnya.


                                                                                                        Unfailing Regards,

Tuesday, November 16, 2010

WELCOME HOME ANAK IPA !!!!!!!!!!!

well, yeah.
selama ini gue kabur
gue ga mau pulang.
gue maunya lari dan lari.
dan terus mencoba menghindari kenyataan.
alhasil berhasil sih ha-ha-ha.
. . . .  .  
eh-tapi.

kabur di sini bukan kabur dari rumah loh. atau kabur dari orang.
gue cumaa kabur dari kenyataan :))
loh?
iya, kenyataan kalo gue anak IPA.
makanya judul postingan di atas 'begitu' kaan.

*tarik napas bentar*
hmm. okay, i'll let you on one thing.
jadi ceritanya, setelah berminggu-minggu gue lari kesana kemari.
dan berkutat dengan segala hal berbau non-eksak. 
gue sadar bahwa gue menginginkan pindah jurusan.
ya, gue katakan sekali lagi dengan gamblang: gue mau pindah jurusan!

mungkin banyak di antara kalian yang baca, terutama anak IPS bakal kontra banget sama pernyataan gue itu.
bahkan mungkin bakal keluar caci-maki?
atau kemungkinan anak IPA yang malah mencibir gue "you're betraying"?

yaa, itu terserah.
itu hak seseorang jika mau memendam amarah semacam itu.
agak sedih sih, tapi. .
no matter for me, it'll be your problem if you so. not mine :)


rasa cinta gue yang besar sama hal berbau bahasa dan jurnalistik meyakinkan gue tentang satu hal. ditambah lagi, kesukaan gue akan hal-hal baru seperti sosial dan manajemen juga ga mau berkompromi.
bahwa gue memang harus memilih jurusan social.
dengan begitu, jadilah.

jadilah gue yang merencanakan semuanya dengan sigap.
gue siap belajar dari awal supaya menang perang di ujian masuk nanti.
bahkan gue udah punya kelompok belajar, bareng dua temen gue yang juga mau ngambil jurusan sosial.
teman seperjuangan? ya mungkin bisa dibilang gitu kali yah ha-ha-ha.

*tarik napas lagi, sekalian peregangan bentar*
mulai dari situ, gue mencoba konsul sama banyak orang.
sama teman, alumni, guru BK, abang gue, kembaran gue, dan terutama ga pernah jemu gue diskusi sama nyokap tercintahhhh. thanks mom, you're the best mom ever for me muaahh :**

gue juga selalu diingatkan buat berdoa terus.
karena banyak hal yang menyita dan membuat gue ragu dengan pilihan itu -pindah jurusan-.
tapi berkali-kali pulang gue tetap mencoba yakin. gue berhasil kabur lagi.
banyak yang dukung pilihan gue, meskipun juga ada yang menyanyangkan.
tapi gue ga mau mempermasalahkan itu.
jadilah gue yang cuek dan tetap optimis.

maju terus, pantang mundur!

tetapi. . .
doa yang selalu gue sebut bunyinya bukan, "Tuhan aku mau ambil jurusan komunikasi. aku mohon engkau berkenan mengabulkannya, amin." -_______-" kesannya ngarep banget ya? emang sih ha.
tapi kayak gini, "Tuhan berikan aku yang terbaik, amin."
"abis itu kamu lepasin aja jadi bisa lega dan ga bikin beban", kata nyokap ke gue.

lalu.
kurang lebih sebelas minggu gue merasa oke dengan pilihan itu.
ya, selama itu pula gue selalu berusaha meyakinkan diri.
selama itu pula gue udah siap belajar. (tapi belum mulai sih he-he)
. . . . . . .
. . . . . . .
namun, semuanya jadi kacau.
yeah, KACAU.
HARUS DIULANG LAGI.

kenapa oh kenapa??
gara-gara kenyataan mencoba menampar gue hari ini.
ya, sepertinya dia marah karena gue ga pulang-pulang.
dia merindukan gue, mungkin.
tapi berkat tamparannya, gue jadi sadar.

gue memang mau ambil jurusan ips.
gue memang suka jurnalistik, yang berarti arah gue ngambil komunikasi.
gue memang suka dan niat.
tapi, kenyataan menyadarkan gue akan hal lain.

kenyataan bilang, "put lo ga harus ke ips kalo emang suka jurnalistik.
jurusan komunikasi juga mungkin bukan hal yang pengen banget lo jajaki.
inget, lo juga tertarik me-manage sesuatu meskipun lo ga mau ngambil jurusan manajemen."

dengan kata lain dia mencoba menyuruh gue pulang ke jurusan ipa.
gue bilang, "oke. tapi cuma ada satu jurusan yang gue kepengen banget"
cuma SATU jurusan ipa yang gue MAU.

bukan yang lain.

dan setelah itu, gue konsul lagi ke nyokap.
gue jelasin bla bla bla.
eng ing eng, ternyataaaaaaaaa nyokap ngedukung juga.
dan saat itu juga gue langsung yakin gue mau ambil jurusan itu -satu-satunya jurusan ipa yang gue mau-

terus gue mikir, emang besar ya kuasa doa itu.
kata-kata "Tuhan berikan aku yang terbaik" ternyata memang merevisi pilihan gue.
dan gue senang udah bisa ambil keputusan itu.
Thanks GOD, thankyou for leading me and everything :'))

so, Welcome Home for me!!!!!!!
SELAMAT DATANG KEMBALI ANAK IPA :D


eh terus jurusan apa yang gue pengen pada akhirnya?
hmm, coba tebak. clue-nya:
1).jurusan ipa tapi bukan kedokteran, pokoknya non-medical;
2).belajar managing, tapi bukan jurusan manajemen;
3).in other words, it is a mix of a little bit science class and social class.
apa cobaaaa?

 
                                                              Unfailing Regards,

Saturday, October 9, 2010

The Memorable One


One Photo reminding One Place.

One Place reminding One Memory.

One Memory reminding One Togetherness.

One Togetherness reminding One Friendship. 


Like this one. .
It's just my little journey with these people.
With them, my memorable friends


                                                                                      Unfailing Regards,