Saturday, May 14, 2011

Menyampah (Lagi) di Blog

Karena kita sudah lama tak bersua, 
pertama-tama, gue mau ngucapin:



atau dalam bahasa "beken" laennya berarti:

halooo haloo :D



waaah senangnya bisa ngeblog lagi, setelah sekian lama berkutat sama macam2 hal jadi ga sempet "ngapa2in" di blog. paling yg bisa gue pantengin cuma twitter, facebook, sama msn. (itu pun udah jarang, ga setiap hari kayak jaman dolooo).

well, banyak hal sebenarnya yg mau gue sharing di sini, tapi kalo lagi ga ada mood buat nulis2 kayak gini, sharingnya cuma bakal jadi niat, berenti di jalan, dan malah akhirnya gatau mau nulis apa. jadi mumpung gue lagi niat, sok atuh gue tulis aja sekalian kegalauan hati yang kian memuncak ini (aihaiah bahasanyaa). biar sang hati dapat bertemu "sang pencerah" (baca: Lukman Sardi) terus sukur2 diajakin main film bareng (?) #gejalaorangsetress #gejalaoranggalau #abaikan 

nah biar puas "curhat"nya, gue bakal nulis kegalauan hati yang dimaksud di atas di postingan selanjutnya aja yaa. jadi intinya, postingan yang ini cuma mau nyapa dan basa-basi ngobrol bentar doang (baca: NYAMPAH) hehe

ah, sebelumnya pembaca maklumin aja yaa kalo blog ini isinya galau2 mulu ^^
maklum nih sang pemilik lagi kena "kasus" hard-feeling soalnya hahaha, jadi kasusnya selalu berhubungan sama galau2 gituu hihihi :p

yuk ah sekian "menyampah"nya.
yuk maree mulai "bincang2 hati" di postingan selanjutnya.
dadaaaaaah, see you at next posting :D

                                                                                     Unfailing Regards,

Sunday, April 24, 2011

"Semoga Kau Mengerti" - GYA

Beberapa hari yang lalu, gue denger lagu ini.
waktu itu gue lagi di mobil dalam perjalanan pulang,
pas nyetel radio ternyata pas banget lagu ini yg diputer.
Pas dengerin dan mencoba memahami liriknya,
gue ketawa.
gue terkekeh, dalem hati langsung degup2 kecil.

Sebenernya apa yang ada di pikiran gue saat itu?
gue mikir "oh my gosh, lagunya kok pas banget sama kondisi gue sekaraaaang??"
apalagi di bagian reffren-nya, rasanya lirik itu bisa mewakili perasaan gue banget saat ini (haha).

Sontak, gue langsung kebayang seseorang.
seseorang yang selama ini selalu baik sama gue.
seseorang yang selama ini gak pernah tahu bahwa gue udah "jahat" sama dia.
seseorang yang dari awal sampe sekarang gue anggep sebagai temen,

Just friend, not more.

Seseorang yang selalu baik dan seseorang yang gak tau apa-apa.
seseorang yang gue "suka" sebagai teman baik,
teman curhat, dan punya tempat berbeda di hati gue.
seseorang yang dari awal membuat gue tertarik dan nggak pernah sekalipun gue "berpura-pura" di depan dia.

tapi cukup sampai situ, kita hanya teman.
(bolehkah aku berkata seperti itu, wahai teman baik?)

Semua kenyamanan, tawa, cerita, canda, dan senyum, dan sapa itu semua gak pernah hanya menjadi "kepura-puraan".
Itu semua jujur, tanpa syarat atau embel-embel apapun.

Namun, sayang justru menjadi kejujuran yang pada akhirnya membuat kamu terbelenggu.

Dan beberapa kali gue mencoba buat ngasih tau hal ini,
tapi gak pernah bisa tercapai.
gak pernah ada kesempatan buat sekadar mengatakan:

"Terimakasih, kamu orang yang baik. Kamu temanku yang baik"






And 'till this end,
i will always just be your friend.

Here, i presented this song just for you...













 
#Semoga Kau Mengerti#
by: GYA

Sekian lama bersamamu
Kau selalu menyenangkan
Kuberikan perhatian
Dalam setiap kesempatan
Kurasakan ada sesuatu
Yang kubaca dari setiap tatap matamu

Jangan kau pernah menduga
Aku mengharapkan kau jadi milikku
Itu tak mungkin terjadi
Sungguh aku tak menginginkan
Yang kuinginkan kau jadi sahabatku
Semoga kau mengerti

Perhatian yang kau beri
Tak kan pernah kulupakan
Tapi jangan kau artikan
Kuinginkan sesuatu yang lebih
Kurasakan ada sesuatu
Yang kubaca dari setiap tatapan matamu

Jangan engkau pernah menduga
Aku mengharapkan kau jadi milkku
Itu tak mungkin terjadi
Sungguh aku tak menginginkan
Yang kuinginkan kau jadi sahabatku
Semoga kau mengerti

Jangan engkau pernah menduga
Aku mengharapkan kau jadi milikku
Itu tak mungkin terjadi
Sungguh aku tak menginginkan
Yang ku inginkan kau jadi sahabatku
Semoga kau mengerti

Menduga....
Itu tak mungkin terjadi..
Sungguh aku tak menginginkan
Yang kuinginkan engkau jadi sahabatku
Semoga kau mengerti
(thanks a lot for your lyric, kak Gya. It's really a nice song ;))


Pepatah selalu mengatakan, "terkadang kejujuran itu sangat menyakitkan"
dan aku tahu itu benar.
mungkin ini menyakitkan buat kamu, wahai temanku yang baik.
tetapi mengertikah kamu bahwa pepatah juga mengatakan "hati takkan pernah bisa dipaksakan" ?
maaf, tapi ini jujur.
bukankah semua orang menginginkan kejujuran?





" please, do not underestimate me.
someday you'll understand 
why :'( "


                    



                                                                    Unfailing Regards,

Thursday, March 24, 2011

Why? Because "us" is not the best for us

i dont know why.
it's funny when it seems to happenned again.
and right now,
i'm just thinking a lot about:
why did you come?
why did you great me?
why did you add my account?
why did you ask me for chatting?
why did you ask me "will you come or not"?
why did you look annoyed?
why did you ignore me suddenly?
why did you stop greating me?
why did you come again?
why did you text me?
why did you give me an attention?
why did you say some soothing words?
why did you convince me to forget him?
why did you start complimenting?
why did you say that words?
why did you confirm me that you're serious?
why did you start fulfiling my mind?
why did you play this game on me?
why did you do it just like him?
why did you dissapear few days ago?
why did you appear on my timeline?
why did you not answer my message?
why did you make me confused?
why did you make me just wondering all day?
why did you accost me that way?
why did you act like nothing happened?
why did you make me waiting?
why did you do this to me?
why are you doing this?

oh, why did you?
just wanna tell somebody that
i just hate being like this...

it's just like some old day,
when he was still around me.
when he came and got me
then he stayed away from my life in sudden.
it was hurt, but not anymore.

yet, i still remember what it was like,
just like those old *sucks* days,
i just want to get out.
just runaway somewhere.
cause it made me drop in traumatical condition:
...and i became disliking many things.
i dislike wondering
i dislike waiting
i dislike holding on for nothing
i just dislike for being this, ain't know to do.
because i am afraid
that you are not take me seriously
that you are just playing around
that you are too scared for staying
because i am worried that
i start to have a feeling about you

what should i do?
should i stay away?
should i just move on without you?
should i just forget all that indeed words?
should i stop waiting because it drives me so crazy?

should i ?

well, if that is what you want, then i will be.
i will, trust me.
i understand accordingly; i just need to do one thing

yeah, it is called "leave you behind"

to make you understand that i'm doing this not because i want to do it, 
but because of your own that seems to ask me to do it.

cause you know what? 
maybe "us" is not the best for us...
 


                                                                                                       Unfailing Regards,





*cih, galau amat sih ini postingan -,-
lagi iseng doang kok nulis ini,
gausah dianggep apa2,
oh, just forget it!

Friday, March 18, 2011

"MyDream" in My Dream

“Why are you coming again?”

just an old story on 
Monday, February 14th 2011


Well, kamu datang lagi.
Ini kedua kalinya
sejak aku mengenal kamu,
 sejak kita saling mengenal.

Coming First
Ketika kamu datang pertama kalinya,
hanya terbetik percakapan biasa
yang kita bincangkan di tengah malam suntuk.

Obrolan sederhana seperti basa-basi
yang kita gegerkan untuk mencari topik,
                             untuk membunuh waktu
dan sang malam yang semakin larut ke peraduannya.


                                                                                  Aku tersenyum,

                          ketika kamu bercerita sambil menerawang.
Aku terkekeh,
Ketika kamu menatapku sambil menyeringai.
 Aku tertawa,
ketika kamu berceloteh sambil bersua jenaka.

Aku terdiam,
ketika kamu terhanyut dalam ceritamu.

Then, Coming Twice
Dan ketika kamu datang lagi
 aku terpesona, 
(dan terkejut sekaligus tergelitik simpatik)
di saat kamu justru menyebut namanya
dan bukan namaku.

It’s Dream and Enchanted
Lucu, ketika kamu tiba-tiba hadir di mimpiku.
Itu pertama kalinya kamu datang dengan membawa pesona.

Pesona itu seringkali terhalang
                                                   dan kurasa tak seorangpun mampu melihatnya.

                                    Namun aku selalu bisa menatapinya dengan jelas.
                                                                                                  
                         

                                                                                                         Kamu dan aku dalam mimpiku,

                                                                           bagaimana bisa jika aku tak pernah sedetik pun

                                                               berpikir bahwa kamulah orangnya?

                                        Kamu tak pernah terlintas di otakku untuk menjadi milikku

                               sebelumnya.


It’s You, “MyDream”
Dan kini
                           mengejutkan.
                          Ketika kamu datang kedua kalinya
                          sebagai kenyataan.
                                                    Sebagai kamu yang seutuhnya.

                                                    Sebagai kamu yang nyata dan tanpa maya.


Entah kenapa kamu mendadak ‘ada’.
Tiba-tiba menyergap hariku,
grasak-grusuk meratapi ceritaku
sambil terus mengobarkan ironinya kisahmu.


                               Kisahmu, dengan dia yang enggan kau sebut namanya.

                                                    Apa karena itu kau datang padaku?

                                                                                  Unfailing Regards,

Saturday, March 5, 2011

Wahai "Sebuah Cerita Madu dan Sendu"

"Kubilang, aku sudah mengerti."
  
Dulu aku tak pernah mengerti kenapa kamu  meninggalkan aku.

Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan “ini berakhir” di saat aku ingin mengutarakan isi hatiku, aku bahkan tak pernah mengerti alasannya.

Kenapa kamu yang mendekatiku, membelaiku, merangkulku, mendadak melepasku, kemudian menyuruhku memutuskan ikatan denganmu.

Aku tak pernah tahu alasannya, dan kamu tak pernah membiarkanku untuk tahu. Kamu selalu menyimpan rahasiamu sendiri, milik pribadi seperti dirimu yang otonom dan bebas.

Tapi itu dulu.

Kini aku mengerti. Aku yang sekarang paham benar mengapa kamu melakukannya.

Padaku, itu menyesakkan.

Dan sampai saat ini masih menimbulkan luka yang dalam.

Antara trauma

dengan karma.

Aku mengerti kamu telah melihat hatiku lebih dulu, jauh sebelum aku mampu mengakui apa yang ada di dalam hatiku tentang kamu.

Bahkan sebelum aku menyadari  bahwa aku menyukaimu, kamu sudah memahami bahwa hatiku telah jatuh kepada sosokmu yang datang menghampiri sepiku.

Aku mengerti kamu mendekatiku, kamu menyanjungku dengan rasa tak terhingga, dan membuaiku dalam sejuta harapan.

Aku terbuai, bahkan ketika aku tidak mau mengakui bahwa aku mulai menyimpan setangkup rasa suka untukmu.

Tapi aku tak pernah mengerti kenapa kamu pergi. Dulu, pastinya.

Kamu yang dulu membiarkan aku bertanya-tanya “mengapa” dan “kenapa”.

Lalu, kini aku tahu jawabannya.

Karena "kubilang, aku sudah mengerti."

Sekarang, aku mampu melihat isi hatimu. Aku bisa menerka apa yang sebenarnya saat itu ada di dalam benakmu.

Kamu terluka.

Dan jauh di lubuk hatimu, kamu takut.

Sebenarnya, kamu sendiri bingung dan enggan untuk merasakan apa yang saat itu kamu rasakan. Aku mengerti bahwa saat itu kamu berdiri di antara dua pilihan.

Ada aku.

Dan (lalu) muncul dia.

Aku yang pertama kali mengetuk pintu hatimu, dan aku tahu kamu perlahan bersedia membukakannya untukku. Kamu membuka hatimu dengan terus menjadikanku seseorang yang ingin kamu lindungi.

Dan apa yang terjadi selanjutnya?

Kamu berhasil karena aku terpikat dan mulai berpikir bahwa “kamulah orangnya”.

Kemudian di saat yang hampir bersamaan, datanglah dia yang menyapa segala bimbangmu.

Dan apa yang terjadi selanjutnya?

Dia berhasil karena kamu terpesona dan mulai mengira-kira “apakah dia orangnya?”

(Dan aku tahu apa yang terjadi selanjutnya),

Ya.

Tepat pada saat itulah kamu ragu. Ragu pada hatimu.

Pada pilihanmu, kamu tahu kamu goyah.

Dan apa yang terjadi selanjutnya?

Kamu jenuh padaku.

Kamu perlahan menjauh dariku.

Aku tahu, itu kamu lakukan bukan karena apa yang kuperbuat padamu sebelumnya.

Bukan karena aku pernah menyakiti hatimu sebelumnya. Namun, karena hal lain yang lebih mendesak.

Lebih menuntut, dan jauh lebih berarti bagimu.

Yaitu, dia.

Dia, yang namanya mungkin mulai membayangi otakmu, hatimu, dan bahkan membuatmu melupakan aku.

Dia yang mencuri “start”-ku, padahal aku yang pertama kali datang.

Dan apa yang terjadi selanjutnya?

Aku kalah dalam berlari, dalam perlombaan memenangkan piala hatimu.

Dan dialah yang justru meraup seluruh perih hatimu, di mana aku pernah membayangkanku bahwa akulah orangnya yang dapat mengobati luka hatimu.

Dia yang hanya setengah berlari, dan bahkan memulai perlombaan paling belakang setelahku, malahan dia yang keluar sebagai pemenangnya.

Malahan dia yang kau ijinkan menyentuh lubuk sanubarimu.

Memeluk segala pedihmu, yang dulu sempat ingin kau sandarkan padaku.

Aku sakit.

Saat itu aku tak tahu apa-apa.

Ketika itu aku buta diri, buta hati tanpa mengetahui sebab yang pasti kamu meninggalkan aku.

Aku hanya terdiam, pasrah dan marah.

Sangat

menyakitkan ketika mengetahui kemudian kamu mendekati dia.

Tapi aku rela,

bahkan mungkin tak mau lagi peduli.

Cukup sudah getir yang kurasakan setiap kali melihatmu.

Cukup sudah rasa ngeri karena pengharapan yang sirna setiap saat kamu menatap wajahku.

Cukup, itu saja.

Sampai situ saja, aku takkan pernah mau merasakannya lagi.

Tidak lagi padamu.

Karena kini aku sudah mengerti.

Lebih dari itu, aku begitu paham bagaimana rasanya.

Bagaimana rasanya berdiri di antara dua pilihan yang sama baiknya. Ada aku yang berseberangan dari tempatmu, dan dia yang masih berdiri di sampingmu menunggu kamu menyatakan cinta.

Aku mengerti bahwa kamu akhirnya lebih memilih dia. Meskipun kenyataan yang terjadi selanjutnya adalah rasa pahit bagi dirimu.

Pahit itu menyiksa, aku tahu. Sebab setelah itu, (aku tahu) dia yang gantian meninggalkanmu. Dia lebih memilih orang lain daripada bersamamu. Aku tahu.

Tapi aku tak pernah mau lagi peduli.

Sebab aku tahu pasti bagaimana rasanya, aku masih ingat dengan jelas apa yang kurasakan setiap kali mengingatmu.

Jadi, aku selalu belajar dari pengalaman itu. Dari kamu, wahai “sebuah cerita madu dan sendu”.

Dan kini aku mengalaminya sendiri, sebagai dirimu.

Aku merasakannya bagaimana menjadi dirimu yang mengharuskan untuk teguh pada satu pilihan.

Untuk memilih di antara dua pilihan.

Di mana yang satu telah memulai “start”-nya lebih dulu.

Kemudian yang lain baru berlari setelah “start” itu sudah dibuka beberapa waktu.

Bagaimana kamu menjadi aktor yang memainkan peran menyebalkan itu, aku akhirnya mengerti kenapa kamu menjalaninya.

Karena aku saat ini juga mengalami hal yang sama.

Kedua pilihan hati sedang berdiri menatapiku, ingin berpacu dengan waktu untuk mengambil genggaman tanganku.

Dan entah tangan mana yang ingin aku ambil nantinya, aku tidak tahu.

Namun, jauh di lubuk hati aku sadar bahwa aku telah memilih.

Hatiku telah condong pada satu pilihan, pada satu nama.

Dan apa yang terjadi selanjutnya?

Aku rasa, aku tak pernah tahu

sampai aku berhasil mencobanya.


                                                                               Unfaling Regards,